![]() |
| Drs H Abdul Muis HAL, M.Kes. Foto US |
Bima,
Berita11.com— Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Bima, Drs H Abdul Muis
HAL, M.Kes mengajak pemuda, pemerhati budaya, sesepuh masyarakat Bima dan Dompu
agar menghentikan perdebadan masalah budaya Mbojo. Menurutnya, tak ada yang
perlu dipermasalahkan terkait budaya itu.
Seperti
diketahui sebelumnya, beberapa kelompok pemerhati budaya, pemuda dan warga
menyoal replikasi budaya Mbojo yang diklaim sebagai warisan di Dompu. Menurut Muis
hal itu tak masalah.
“Menurut
pemahaman saya, Dompu, Bima tidak perbedaan apa-apa. Ini kan hanya masalah
administrasi saja. Bima-Mbojo itu malah empat daerah, Kabupaten Bima, Dompu,
Kota Bima dan Kabupaten Manggarai Barat. Kita telusuri akar budaya dari empat
daerah itu sangat mirip. Kalau klaim itu bagus saja supaya ada persaingan untuk
misalnya kemarin Dompu memecahkan rekor Muri,” ujar H Abdul Muis di Dispar,
Kamis (24/8/2017).
Dikatakan
Muis, rekor Muri budaya Mbojo Saremba Tembe dan Rimpu yang mampu dipecahkan Kabupaten Dompu sangat bagus.
Sisi positif dari kegiatan itu harus memacu persaingan positif dalam memecahkan rekor itu. “Bima pun
demikian mau juga melampui itu. Kan memecahkan rekor itu saling melampui. Jadi tidak
perlu dikisruhkan lagi, sejarahwan tau bagaimana Bima, bagaimana Dompu (Mbojo)
bagaimana Manggarai,” ujar Muis.
Mantan
Kepala Bagian Kesra Setda Kabupaten Bima ini mengambarkan contoh bahwa budaya
Eropa juga ada yang diadopsi masyarakat Bima. “Kalau orang Bima pakai
panggetaan. Baju koko dalam, pakai sarung dan jas di luar. Jas itu tidak
dikenal orang Bima tapi dipakai di Bima, dikenal orang Bima itu. Kalau hasil
kreasi justru itu yang dipatenkan. Makanya Dompu tadi hasil kreasi mereka yang
dipatenkan,” katanya.
Menurutnya
yang berbahasa adalah budaya Mbojo justru diklaim daerah-daerah tak sejenis. Daerah-daerah
di Pulau Sumbawa merupakan serumpun yang memiliki setting histori yang sama
keislaman dari Goa.
“Budaya
itu sebenarnya yang dihidupakan zaman sekarang, masyarakat sekarang. Apa yang
terjadi dulu dan dihidupkkan. Kalau Manggarai menghidupkan (budaya Mbojo) jadilah
budaya dia. Makanya sekarang kita harus berlomba-lomba ke sana. Bukan kita
saling berjegal, biarkan saja, mereka sah-sah saja dan itulah keuntungan mereka,”
kata Muis.
Muis
juga menilai Festival Pesona Tambora yang ditetapkan di Kabupaten Dompu juga
didasari sejarah gunung itu. Kebetulan hari jadi Kabupaten Dompu bertepatan
dengan peristiwa meletusnya Gunung Tambora. “Festival Pesona Tambora itu dengan
sendirinya Dompu. Walaupun wilayahnya lebih luas 70 persen itu Bima, yang dijual
oleh dunia itu bukan alamnya tapi sejarah meletusnya itu,” tandas Muis. (US)
Komentar