![]() |
| Aktivitas Petani Bawang Merah di so Lambe Desa Sai Kecamatan Soromandi. Foto US |
Bima,
Berita11.com— Sejumlah petani bawang merah di Kabupaten Bima mengeluhkan harga
pupuk yang melambung. 10 hari terakhir harga pupuk mencapai Rp180 ribu per zak.
Padahal biasanya hanya Rp80 ribu hingga Rp100 ribu.
Petani bawang
merah di so Lambe Desa Sai Kecamatan Soromandi, Anwar H Muhtar mengungkapkan,
selain mahal beberapa hari terakhir stok pupuk urea juga langkah. Padahal saat
ini rata-rata petani bawang merah sedang membutuhkan pupuk. “Sekarang tanaman
kami sudah 20 hari dan sangat membutuhkan pupuk. Tidak hanya harganya yang
mahal sekarang pupuk juga langka,” katanya di Desa Sai Kecamatan Soromandi,
Senin (28/8/2017).
Ia berharap
dinas terkait dan pihak distributor pupuk segera mengatasi masalah kelangkaan
mineral yang dibutuhkan tanaman tersebut. Pemerintah juga harus turut andil
memastikan memutus mata rantai spekulan yang kemungkinan bermain di balik harga
pupuk yang melambung.
“Sekiranya
dapat dibantu agar segera mengatasi kelangkaan ini. Karena rata-rata petani
sekarang sedang membutuhkan pupuk,” ujar dia.
Anwar
mengaku, modal yang ia keluarkan untuk menanam bawang mencapai Rp25 juta. namun
itu tak akan sebading jika petani gagal panen dan terus mengalami kelangkaan
pupuk. Setiap hektar lahan yang digarap petani biasanya mencapai hasil maksimal
10 ton. Namun saat musim yang tak menentu atau ketika terjadi hujan tiba-tiba,
maka hasil yang mampu diraih hanya 5 ton.
Menurutnya,
selain kelangkaan pupuk, saat ini petani bawang di Kabupaten Bima sedang galau.
Karena harga bawang merah di setiap daerah anjlok. Bahkan turun dari harga Rp2
juta menjadi Rp800 ribu per 100 kilogram.
Petani lainnya,
Maman berharap pemerintah segera mengatasi kelangkaan pupuk urea yang terjadi
10 hari terakhir. “Kami takutkan kalau pupuk tidak lancar tanaman rentan
terhadap ulat,” katanya.
Menurutnya,
saat masa pertumbuhan tanaman seperti satu bulan awal sangat membuthkan pupuk. Biasanya
waktu yang diperlukan untuk memanen bawang hingga 70 hari atau kira-kira tiga
bulan. “Harapan kami mudah-mudahan beberapa hari ke depan distribusi pupuk
sehingga membantu petani,” harapnya.
Sementara
itu, petani lain bawang putih, Julfikar mengungkapkan, sejumlah petani di so
Lambe hendak beralih menanam jagung karena lebih menjanjikan keuntungan. Selain
itu, modal awal tak terlalu besar. “Beda dengan bawang modalnya lebih besar. Bahkan
dalam sehari itu rata-rata harus keluar uang sampai 400 ribu kadang untuk beli
obat (pestisida),” katanya. (US)
Komentar