Mataram, Berita11.com— Aliansi Jurnalis Independen (AJI)
Mataram mengelar kampanye lawan hoax, melalui Workshop Etik dan Profesionalisme
Jurnalis dalam menghadapi hoax, serta pertunjukan wayang sasak interaktif.
Pertunjukan wayang digelar di Kedai Jangkok, Ampenan, Jum'at malam (7/7), oleh
Sekolah Pedalangan Wayang Sasak (SPWS) Sesela.
Sebelum pertunjukan
wayang, sepanjang hari Jum'at, puluhan jurnalis anggota AJI Mataram
mengikuti workshop Etik dan Profesionalisme Jurnalis menghadapi hoax. Workshop yang merupakan kerjasana antara AJI
Indonesia dan Australian Embassy Jakarta, dihadiri jurnalis senior Satrio
Arismunandar, Mochamad Rudi Hartono dan Jupriadi Asmaradana.
Para pemateri menyampaikan berbagai persoalan penting
menyangkut penyikapan jurnalis terhadap wabah hoax yang meresahkan. Berbagai
materi itu terkait penegakan etik, prinsip prinsip peliputan serta hukum pers:
mengindari ranjau pidana dan perdata yang kerap mengintai jurnalis selama ini.
Workshop sehari itu berjalan cukup efektif, karena hampir
semua materi mendapat respon dari peserta, yang banyak mengalami masalah dalam
menjalankan tugas tugas peliputannya, termasuk derasnya serbuan hoax yang sudah
sangat memprihatinkan.
Salah satu cara cerdas yang dilakukan jurnalis dalam
menghadapi hoax adalah dengan meningkatkan profesionalisme, dan menjalankan
kode etik jurnalistik (KEJ) dengan benar.
“Jurnalis harus menjalankan etik
dengan baik, karena menjadi dasar atau rambu dalam menjalani tugas tugasnya
sebagai jurnalis, ini penting dan harus dijalankan, di tengah banyaknya
informasi hoax saat ini,” kata Muhammad Rudy Hartono.
Dia mengatakan jurnalis harus memiliki etik yang kuat dalam
menjalankan tugas jurnalistiknya, agar tidak mudah terpengaruh apalagi ikut
berperan menyebarkan berita berita hoax.
Hal senada juga diungkapkan Satrio Arismunandar, jurnalis
senior dan pendiri AJI Indonesia tahun 1994 silam, Satrio menekankan akan
pentingnya jurnalis memahami dan menegakkan Elemen-elemen dasar jurnalistik.
Elemen itu antara lain kewajiban pada kebenaran, loyalitas pada publik dan
disiplin verifikasi. "Kebenaran jurnalstik tidak sama dengan kebenaran
agama dan filosofis yang bersandar pada keyakinan, tapi kebenaran jurnalistik itu berdasarkan
atas fakta-fakta. " kata Satrio.
Ditambahkannya juga bahwa belakangan ini warga bukan lagi
sekadar konsumen pasif dari media, namun juga menciptakan media sendiri.
Munculnya blog, jurnalisme online, jurnalisme warga (citizen journalism),
jurnalisme komunitas dan media alternatif. “Ini juga bentuk dari perkembangan jurnalisme,
dimana warga dapat menyumbangkan pemikiran mereka, opini, berita dan lainnya”
kata Satrio.
Penegasan dalam
workshop ini juga muncul bagaimana cara jurnalis menghindari ranjau pidana dan
perdata dalam menjalankan tugas-tugasnya, di tengah beragam informasi yang
muncul termasuk hoax. Jupriadi
Asmaradana, dari AJI Makasar menyebutkan bahwa untuk menghindari ranjau pidana
dan perdata itu, jurnalis harus memahami Undang Undang Pers No 40/1999 dan Kode
Etik Jurnalistik.
“Sangat disayangkan bahkan jurnalis yang belum pernah
membaca UU Pers dan Kode Etik Jurnalistik, padahal mereka menjalankan kerja
kerja jurnalistik, ini berbahaya jika jurnalis tidak pernah baca UU Pers dan
Kode Etik. Jurnalis harus memahami UU yang melindungi kerja mereka,” kata
Jupriadi
Selain menggelar workshop, AJI juga menggelar pagelaran
wayang sasak anti hoax, oleh Sekolah pedalangan wayang Sasak (SPWS)
Sesela, yang digelar di pangung sungai Jangkuk Ampenan. Dalam pertunjukan wayang interaktif yang
berlangsung selama dua jam, dalang muda Bayu Windia, menyebutkan betapa
jahatnya hoax atau informasi bohong menghantui kehidupan masyarakat, termasuk
masyarakat di Lombok Nusa Tenggara Barat.
“Banyak informasi bohong berbau fitnah yang diterima begitu
saja oleh masyarakat, karena itu kita harus hati hati” katanya lewat dialog
Amaq Baoq (panakawan) yang dimainkannya dengan penuh homor.
Pertunjukan Wayang
Anti hoax itu ditonton puluhan jurnalis NTB, Jurnalis senior Satrio
Arismunandar, Pengurus AJI Indonesia, Jupriadi Asmaradana, dan M. Rudi Hartono,
Juru Bicara Polres Mataram, AKP Made Aranawa dan Kepala Dinas Komunikasi,
Informasi, dan Statistik (Diskominfotik) NTB, Tri Budi Prayitno, aktivis
lingkungan dan para seniman muda di Kota Mataram.
Wayang Interaktif kali ini mengajak jurnalis senior, aparat
kepolisian dan pihak pemerintah untuk berdialog dengan para panakawan, seperti
Amaq Baok, Amaq Kesek dan Sam Butak terkait hoax yang kian membingungkan
masyarakat.
Usai berdialog dengan wayang, jika beruntung mereka bakal
mendapatkan wayang dari sampah plastik bergambar wajah mereka.
Juru Bicara Polres Kota Mataram, AKP Made Arnawa, yang juga
didaulat berdialog dengan wayang meminta para jurnalis membantu aparat
kepolisian, dalam upaya menangkal hoax, dia mengatakan Jurnalis juga harus awas
dan tidak turut menyebarkan berita bohong.
“Kami berharap jurnalis tetap
mencari tahu sumber informasi yang mereka peroleh, baru mereka menyebarkannya,
agar hoax ini tidak meluas dan menganggu ketertiban umum,” katanya.
Penonton mengapresiasi wayang anti hoax yang digelar SPWS
Sesela bekerjasama dengan AJI dan Australian Embassy itu, mereka berharap dapat digelar di lokasi
yang lebih luas dan bisa ditontot masyarakat, agar informasi bahaya hoax ini
tersosialisasi.
“Kami sih maunya wayang
yang bisa bicara langusng dengan pejabat, bisa digelar lagi, agar lebih seru
dan membuat kami makin faham bahaya berita bohong ini,” kata Akmal salah
seorang penonton. (US)
Komentar