![]() |
| Muhammad Sukri dan Guru SLB Kota Bima saat Membimbing Siswa Berkebutuhan Khusus/ US |
Tak mudah menjadi guru bagi siswa
berkebutuhan khusus. Tidak seperti seperti sekolah umum. Setidaknya butuh
kesabaran ekstra dan kemampuan berkomunikasi mendampingi para penyandang disibilitas.
Namun profesi itu sudah 31 tahun dilakoni Muhammad Sukri. Catatan Fachrunnas.
Suasana jalan
Datuk Dibanta Kota Bima pagi itu mulai ramai. Beberapa kendaraan mulai hilir
mudik memenuhi ruas jalan. Sebuah bangunan sekolah tampak lengang dari luar. Hanya
beberapa sepeda motor yang terparkir di halaman bangunan. Tak ada pos satpam,
tak ada taman bermain anak-anak, tak ada kantin. Bahkan lonceng sekolah tak
ada.
Tiga bulan
lalu di lokasi ini tumpukan sampah dan genangan lumpur merupakan pemandangan yang
tak lazim setelah banjir bandang meluluhlantahkan Kota Bima. Lokasi sekolah memang
hanya sekitar 10 meter dari sungai sehingga luberan lumpur pernah menggenangi
bangunan hingga 30 centimeter. Namun semua duka itu telah sirna setelah warga Kota Bima bangkit
berbenah. Semangat itu juga tercermin dari senyum beberapa siswa Sekolah Luar
Biasa (SLB) Kota Bima pagi itu.
Beberapa siswa
terlihat riang ketika Berita11.com
berkunjung. Meskipun biasanya siswa SLB memiliki keterbelakangan mental. Namun beberapa
anak disabilitas memiliki mimpi seperti siswa sekolah umum. Beberapa menit
kemudian, seorang pria paruh keluar dari dalam ruangan. Namanya Muhammad Sukri,
seorang guru yang sudah 31 tahun
mengabadikan hidupnya sebagai pengajar di SLB Kota Bima.
“Kalau
sebelumnya saya di Jaka Tunis Jogjakarta. Ada 35 orang yang ikut dikirim ke
NTB. Tunggu SK di Lombok selama seminggu nunggu tanda tangan orang BKN. Guru perempuan
ditempatkan di Pulau Lombok yang laki-laki di Pulau Sumbawa. Ada yang di Bima,
Dompu dan Sumbawa,” ujar Muhammad Sukri setelah Berita11.com membuka wawancara.
Sukri masih
mengingat kesulitan yang ia rasakan ketika pertama kali menjadi guru SLB di
Bima. Tantangan utamanya sikap sebagaian masyarakat Bima yang malu
menyekolahkan anaknya karena menyandang cacat.
Namun berkat berbagai pendekatan yang dilakukan sekolah, beberapa orang tua mau
menyekolahkan anaknya.
“Dulu,
terutama kalau orang kaya punya anak cacat itu malu. Malah disembunyikan,
tetangganya saja nggak boleh tahu kalau mereka punya anak cacat. Tapi kita
setiap hari aktif mencari murid,” ujar Sukri.
Ketika awal
SLB Bima berdiri puluhan tahun silam, jumlah tenaga pendidik hanya delapan
orang. Tiga diantaranya merupakan guru yang direkrut dari Pulau Jawa. Setiap hari
guru mendampingi anak hingga mengantarnya pulang ke rumah menggunakan dua
benhur yang disiapkan sekolah.
“Kondisi SLB
waktu itu masih sepi, belum ada kendaraan. Transportasi pakai benhur. Dulu
sekolah punya dua benhur untuk wilayah Raba dan Rasanae Barat. Setiap hari siswa
diantar pakai benhur,” cerita Sukri.
Menurut ayah
lima anak ini, pengalaman terberat selama menjadi guru SLB yaitu mendampingi
siswa penyandang cacat ganda seperti tunanetra dan tunawicara. Selain kemampuan
berkomunikasi, membutuhkan kesabaran yang ekstra. Di SLB Kota Bima sedikitnya
ada 60 siswa berkebutuhan khusus yang dibimbing yaitu penyandang tunanetra,
tunawicara, tunagrahita dan tunalara.
“Paling berat
bimbing siswa yang cacat ganda. Itu harus ekstra sabar. Ngajar siswa di sini
secara individual, kalaupun berkelompok itu paling banyak dua orang. Siswa di
sini juga ada yang masuk cuma sekali seminggu, ada yang sekali sebulan dan ada
juga yang rajin tergantung kemampuan ekonomi keluarga,” ujar Sukri.
Beberapa tantangan
pernah dialami Sukri ketika membimbing siswa kelas tunagrahita (penyadang autis
dan down sydrome). Seorang siswa kabur tanpa diketahui guru. “Waktu itu sudah
panik sampai cari keluar. Ada juga siswa yang nyebur di lumpur. Kebetulan di
depan sekolah ini dulu ada parit besar,” ujarnya.
Terlepas dari
tantangan selama menjadi pengajar siswa berkebutuhan khusus, Sukri bersyukur
beberapa siswanya sukses menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) seperti Muhammad
Hasan yang kini menjadi pengajar di SLB Dharmawanita Kota Bima. Mantan muridnya
yang lain menjadi pengajar di Kecamatan Monta Kabupaten Bima. Sebagian ada yang
menjadi tukang ojek di Kota Bima.
“Kalau yang
tunanetra itu banyak yang sukses jadi sarjana. Bahkan beberapa ada yang jadi
PNS. Kalau yang tunadaksa ada yang menjadi tukang ojek saya lihat,” katanya.
Selain melihat
mantan muridnya yang sukses, kebahagian lain juga dirasakan alumnus SGLB
Jogjakarta tahun 1985 ini karena sukses mendidik lima anaknya. Tiga anak Sukri
kini bekerja di Bima. Satu diantaranya bekerja di Badan Pertanahan Nasional
(BPN) Kabupaten Bima dan satu anaknya yang lain mengikuti jejaknya menjadi
pengajar di SLB Kota Bima setelah menamatkan pendidikan S1 PGLB di Jogjakarta.
Menjelang masa
pensiun, Sukri sudah memiliki rencana akan menghabiskan masa dua di Jogjakarta,
merawat ibunya masih hidup. Beberapa anaknya yang belum bekerja akan diboyong
ke Jogjakarta.
Pada momentum
Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2017, Sukri hanya berharap agar pemerintah
daerah berkenan memberikan perhatian khusus untuk siswa penyandang disabilitas
dengan membangun kelas berlantai dua. Karena saat musim hujan SLB Kota Bima dihantui
banjir bandang yang mengancam keselamatan siswa.
“Kalau
sekolah sudah dibangun tingkat dua, ketika sewaktu-waktu terjadi banjir
bandang. Siswa bisa kita ungsikan ke lantai dua. Saat banjir kemarin semua
rusak, komputer rusak. Alat musik siswa tunanetra juga hanyut,” katanya. (*)
Komentar