Maluk, Berita11.com— Perekonomian masyarakat lingkar tambang Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) di Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, terutama kalangan menengah ke bawah seperti pengojek, warung, kos-kosan, hingga pedagang macet total setelah kebijakan lockdown diterapkan perusahaan penambang dan pengelola mineral sulfida tersebut.
Persoalan itu disuarakan massa Gerakan Masyarakat Lingkar Tambang (GMLT) yang menggelar unjuk rasa di pintu masuk perusahaan setempat di Gate Benete, Kamis (14/21/2020).
Massa GMLT sendiri terdiri dari para pemilik warung, pengojek, pedagang, pengusaha tempat hiburan dan pengusaha kos-kosan di wilayah Kecamatan Maluk Kabupaten Sumbawa Barat. Massa menganggap kebijakan yang diberlakukan PT AMNT menjadi penyebab lumpuhnya ekonomi masyarakat lingkar tambang.
Perwakilan massa, Youny Bourhany dalam orasinya menyampaikan, kebijakan yang diberlakukan PT AMNT saat ini sudah membuat ekonomi masyarakat lingkar tambang lumpuh total, bahkan mati.
“Kami dari massa aksi meminta perusahaan menurunkan karyawan dan membuka kembali lockdown. Gara gara lockdown karyawan, tukang ojek, pemilik warung, pengusaha kos-kosan, pedagang pasar terkena dampak. Pemasukan mereka sepi,” katanya.
Menurut dia, kebijakan perusahaan tambang itu mematikan ekonomi masyarakat. Padahal mestinya keberadaan tambang seharusnya menghidupkan ekonomi masyarakat lingkar tambang.
Saat menggelar orasi, Youny meminta bertemu dengan Direktur PT AMNT untuk melakukan dialog dengan massa aksi. Bukan ditemui oleh manajemen perusahaan.
Aksi massa dikawal ketat pihak aparat kepolisian dan security perusahan. Dalam aksinya massa menyampaiakan 11 tuntutan kepada pihak PT AMNT yaitu meminta perusahaan melaksanakan pemberdayaan terhadap seluruh lini kehidupan masyarakat sehingga lebih baik, memberikan kembali dana CSR ke masing-masing desa di lingkar tambang, mendesak PT AMNT agar karyawan tidak tinggal di lingkungan camp, memprioritaskan tenaga kerja lingkar tambang, membuka balai training di wilayah lingkar tambang, menutup akses rekrutmen satu pintu, memberdayakan pengusaha lokal dengan mengaktifkan kembali LBI, memberi kembali akses visitor, mendesak PT AMNT agar menggunakan jasa buruh untuk bongkar muat barang suplayer.
Selain itu, massa juga mendesak agar perusahaan mengembalikan wewenang parkir Gate Benete kepada pihak desa dan menuntut perusahaan agar pengelolaan limbah scrap melibatkan lembaga adat. [B-14]
Selain itu, massa juga mendesak agar perusahaan mengembalikan wewenang parkir Gate Benete kepada pihak desa dan menuntut perusahaan agar pengelolaan limbah scrap melibatkan lembaga adat. [B-14]
Komentar
