![]() |
| Sejumlah Warga Bima Menyaksikan Kerabat Mereka Berangkat Haji dari Luar Pagar Bandara. US |
Bima, Berita11.com— Sejarah jamaah haji asal Bima memiliki banyak
keunikan. Mulai dari tradisi keluarga Calon Jamaah Haji (CJH) yang ramai-ramai
mendampingi di bandara hingga kisah perjalanan ibadah haji ke tanah suci Makkah
yang berbulan-bulan.
Keunikan itu juga nampak saat CJH dari Kota Bima
berangkat melalui Bandara Sultan Muhammad Salahuddin Bima, Selasa (22/8/2017). Jubelan
warga rela berdesak-desak di dalam mobil dan pickup demi melepas langsung
kerabat mereka berangkat menunaikan rukun ke-5 Islam.
Mustamin, asal Desa Rade Kecamatan Madapangga Kabupaten
Bima, salah satu warga yang ikut mengantar CJH dari Kota Bima. Ia berangkat
dari Madapangga bersama 30 orang keluarganya untuk menyaksikan Drs Syahbuddin, warga Kelurahan Lewirato Kota
Bima yang merupakan kerabat mereka berangkat haji melalui Bandara Sultan
Muhammad Salahuddin Bima.
“Ini adalah tradisi orang Bima dari dulu. Bukan saja
sekarang, tanpa dikomando pun biasanya keluarga calon jemaah haji ikut
mengantar keluarga hingga naik pesawat,” ujar Mustamin.
Mustamin mengaku, setiap ada kerabatnya yang berangkat
haji pasti akan diantar oleh puluhan orang. “Jadi setiap kampung itu bisa
sampai ratusan hingga ribuan. Makanya tak cukup satu mobil pickup bahkan tiga
sampai empat mobil,” katanya.
Menurut pria paruh bayah ini, ada banyak alasan mengapa
warga Bima rela mengantar kerabatnya yang berangkat haji hingga bandara. Selain
tradisi, itu dilakukan untuk menyemangati CJH agar optimis melaksanakan seluruh
rukun ibadah haji dan kembali dengan selamat.
“Saat berangkat biasanya keluarga yang tinggal akan
mendoakan anggota keluarga yang berangkat haji. Demikian juga bisa menitipkan
doa di Makkah kepada anggota keluarga yang berangkat,” kata Mustamin.
Selain ramai-ramai mengantar CJH ke bandara, umumnya
calon jemaah akan menggelar doa selamatan. Ketika itu seluruh keluarga dan
warga sekitar diundang menyampaikan doa selamat. Umumnya warga dan kerabat CJH
yang menghadiri acara itu biasanya menyumbang sekadang untuk meringkankan biaya
bagi calon jamaah.
“Kalau di Desa Rade itu ada calon jamaah haji yang
menerima dan ada juga yang tidak. Biasanya saat doa haji dana yang terkumpul
itu jutaan sampai 10 juta pernah ada. Tapi
ada juga calon jemaah yang tolak, malah dia yang kadang kasi uang ke keluarga
itu kalau calon yang berada,” ujar Mustamin.
Tak hanya Mustamin, warga Kelurahan Tanjung Kota Bima, M Ali
bersama puluhan keluarganya ramai-ramai mengantar kerabatnya yang menjadi CJH
Kota Bima. “Tadi ada empat mobil ke sini. Ada yang pakai pickup ada yang pakai
mobil pribadi,” katanya.
Mayat
Jamaah Haji asal Bima Dimakamkan di Laut
Jauh sebelum alur keberangkatan CJH seperti sekarang ini,
puluhan tahun lalu warga Bima juga ikut bergabung dengan sejumlah calon jemaah
haji di daerah lain di Indonesia berangkat haji menggunakan kapal besi berlayar
hingga Timur Tengah untuk melaksanakan
ibadah haji di Makkah.
Pada tahun 1960-an jamaah haji asal Desa Bajo Kecamatan
Soromandi Kabupaten Bima, H Hakim Abu Jannah dimakamkan di laut karena
meninggal dunia saat perjalanan pulang ke Indonesia. “Saya Cuma dengar cerita
orang tua yang berangkat haji kala itu. Jadi yang tiba di desa hanya peti yang
berisi perlengkapan almarhum seperti baju, sorban dan sebagainya. Karena Haji
Hakim meninggal di tengah perjalanan,” cerita Rahma, warga Desa Bajo.
Pemakaman jamaah haji yang meninggal dalam perjalanan
pulang itu terpaksa dilakukan karena ketika itu jamaah haji menggunakan kapal
laut hingga berpekan-pekan dari Timur Tengah ke Indonesia atau sebaliknya. Jenazah
H Hakim Abu Jannah dimakamkan dengan cara dilarungkan ke dalam samudera setelah
dikafani dan shalatkan oleh jamaah haji dalam kapal kala itu.
![]() |
| Perjalanan Jamaah Haji Indonesia Tahun 1960-an. Foto Cheria-Trevel.com |
“Dalam Islam itu juga dimungkinkan karena perjalanan
berpekan-pekan. Sementara belum mendapatkan daratan. Jadi kewajiban mayat harus
segera mungkin dimakamkan, apalagi dalam perjalanan di tengah banyak orang juga
akan menyebabkan bau sehingga dalam Islam mengatur itu,” ujar Rahma.
Sejarah haji Indonesia dimulai sejak jaman kolonialisme. Namun
jauh sebelum itu, dalam sejarah disebutkan orang pertama dari nusantara yang
berangkat haji yaitu Sang Bunisora dari tanah Sunda yang sebelum itu menikah
dengan wanita muslimah.
Gelombang jamaah haji dari Indonesia lebih masif pasca
kemerdekaan Republik Indonesia. Kala itu
pelayaran jamaah haji dari Indonesia menggunakan kapal Sunang Gunung Djati. Pelayaran
jamaah haji menggunakan kapal Sunan Gunung Djati yang membawa 42.000 jamaah
haji asal Indonesia berlangsung selama 21 tahun.
Sebelum itu, kapal Gunung Djati awalnya merupakan kapal
uap bernama TS Pretorial yang merupakan kapal logistik Angkatan Laut Nazi Jerman
selama Perang Dunia II pada tahun 1939-1945. Saat masa perang, kapal itu
kemudian disita pasukan Inggris hingga akhirnya namanya diubah menjadi HMT
Empire Orwell. Setelah itu penggunaan kapal tersebut dihentikan Inggris yang
belakangan kemudian disewa perusahaan Pan Islamic di Karachi Pakistan.
Setelah itu, kapal tersebut dibeli perusahaan Inggris di Pelabuhan Liverpoll hingga berganti nama menjadi Gunung Djati. Nama salah satu sunan di Pulau Jawa. (US)
Komentar
