![]() |
| Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Bima Menerima Sumbangan Buku dari Penulis. Foto US |
Kota Bima,
Berita11.com— Hingga kini semua kampus di Bima belum melaksanakan kewajibannya menyerahkan
tugas akhir atau skripsi mahasiswa kepada perpustakaan daerah. Padahal sesuai Undang-Undang
Nomor 43 Tahun 2007, kampus wajib menyerahkan tugas akhir ke perpustakaan.
Menurut Kepala
Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Bima, Dra Hj Sri Ratnawati MH, umumnya
kampus di Bima belum memahami tentang ketentuan Undang-Undang. “Belum ada
satupun kampus. Nanti kita surati saja kampus. Kalau penerbit atau penulis
umumnya sudah tahu,” ujar Hj Sri Ratnawati kepada Berita11.com di Dinas
Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Bima, Rabu (2/8/2017).
Diakui Sri
Ratnawati, berbeda dengan sejumlah kampus, umumnya penulis di Bima sudah
memahami kewajiban mereka harus menyerahkan minimal satu buku yang diterbitkan
kepada perpustakaan daerah.
“Kalau
penulis atau penerbit sudah paham. Walapun ada memang harus kita bayar. Kewajiban
penulis, penerbit dan kampus itu harus menyerahkan skripsi dan buku itu kepada
perpustakaan. Itu Undang-Undang yang mengatur,” katanya.
Sri Ratnawati
melihat belum ada proses penyadaran terhadap mahasiswa di Bima tentang
pentingnya mencari referensi di perpustakaan. Dosen malah hanya menugaskan
mahasiswa tanpa memastikan sumber referensi, sehingga banyak mahasiswa yang
hanya mencari referensi di internet melalui proses pemindaian (copy-paste).
“Harusnya
guru atau dosen kalau memberi tugas, dia harus tahu sumbernya. Harus jelas
sumbernya. Apalagi sekarang banyak informasi hoax. Anak-anak juga belajar tidak
ada proses belajarnya kalau rujukannya hanya dari internet, dia hanya
copy-paste sekadar melaksanakan kewajiban tugas dari dosen,” ujar Sri Ratnawati.
Kendati demikian,
Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Bima terus berupaya mendorong minat
baca mahasiswa, pelajar dan masyarakat umum. Sejak tahun lalu, beberapa kampus
dan sekolah mulai berkunjung di
perpustakaan Kota Bima secara massal.
Pada bagian
lain, Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah juga terus mendorong minat baca
masyarakat melalui sejumlah terobosan seperti layanan perpustakaan keliling dan
kegiatan lomba rutin untuk pelajar tingkat Sekolah Dasar hingga SMA.
“Tantangannya
memang banyak, dimana-mana minat baca masyarakat rendah. Itu persoalan di
seluruh Indonesia. Ini butuh dukungan dan kerjasama semua pihak untuk mendorong
itu. Karena dengan masyarakat membaca mereka akan cerdas, daerah akan jauh
lebih baik,” ujar Sri Ratnawati. (US/*)
Komentar
