![]() |
| Tak Ada Saluran Air Bersih, Warga Doridungga Kabupaten Bima Berebut Air di Kubangan dengan Ternak. US |
Bima,
Berita11.com— Sejak dua bulan lalu, kehidupan warga Desa Doridungga Kecamatan
Donggo Kabupaten Bima sungguh memprihatinkan. Sedikitnya 850 kepala keluarga
(KK) di desa setempat terpaksa mengonsumsi air kotor karena saluran utama air
bersih menuju desa yang berada lebih dari 500 meter di atas permukaan laut
tersebut rusak.
Kepala Desa
Doridungga Kecamatan Donggo Kabupaten Bima, Adhar, S.Pd mengungkapkan, kondisi
tersebut telah berlangsung dua bulan. Bahkan untuk mendapatkan air, warga harus
berjalan kaki lebih dari satu kilometer,
melawati jalan bergelombang menuju kubangan yang berada jauh dari pemukiman di
desa setempat.
Tidak hanya
itu, warga juga harus berebutan air dengan gerombolan hewan seperti kerbau dan kuda
yang biasa berendam di kubangan ketika musim kemarau seperti saat ini. “Jadi
tak banyak pilihan bagi kami dan masyarakat kami di sini setelah pipa saluran
air bersih dari atas ini rusak,” ungkap Adhar kepada wartawan, Minggu
(30/7/2017).
Diakui Adhar,
sebenarnya memang ada solusi lain untuk krisis air yang dihadapi warga setempat
yaitu mengangkut air dari Kecamatan Soromandi atau Kecamatan Bolo yang jaraknya
mencapai belasan kilometer.
“Kadang warga
harus sewa mobil untuk ambil air di Desa Bajo Kecamatan Soromandi atau
Kecamatan Bolo. Tapi bianya itu sampai 200 ribu untuk satu kali pergi ambil
air,” katanya.
Diungkapkannya,
sejak krisis air bersih, masyarakat Desa Doridungga terpaksa mengurangi
aktivitas.bahkan beberapa warga terpaksa tidak melaksanakan wudhu dan
menggantinya dengan tayamu.
“Sekarang
bisa dilihat shaf di masjid itu paling satu shaf. Berbeda dengan kondisi saat
air bersih lancar. Itu tak seberapa jika dibandingkan kondisi warga saya yang
sedang hadas besar. Mereka butuh air bersih sementara kondisi di sini susah
air,” ujar Adhar.
Menurutnya,
ada 3.368 penduduk Desa Doridungga yang membutuhkan air bersih. Akibat krisis air
pasca perusakan pipa, sejumlah warga desa setempat harus rela mandi hingga
berhari-hari.
“Seperti saya
kadang dua hari nggak mandi karena air di sini sangat terbatas. Itu pun kami
dapat air keruh dan kotor setelah jalan ambil di dekat gunung yang jaraknya
satu kilometer lebih,” kata Adhar.
Kondisi tersebut sebenarnya sudah lama dilaporkan kepada pemerintah daerah. Namun
ironisnya hingga kini belum ada respon nyata kecuali survei lokasi baru sumber
mata air bagi penduduk setempat.
“Sudah
beberapa kali kami laporkan. Bahkan bukan saja kepada pemerintah daerah tapi
kepada banyak pihak. Tapi sampai sekarang baru sampai pada rencana
survei-survei saja, sementara rakyat saya berteriak-teriak tak ada air bersih,”
katanya.
Adhar tak
menampik memang ada air bersih yang dialirkan ke desa setempat. namun volumenya
tak seberapa dan tidak merata ke seluruh dusun. Bahkan tidak mencukupi kebutuhan
minum masyarakat. apalagi kegiatan mencuci atau memasak. Pihak pemerintah
daerah hanya pernah tercatat satu kali mendistribusikan air bersih untuk
penduduk setempat.
“Bagaimana
pun penduduk kami dan desa ini merupakan bagian dari NKRI. Untuk itu kami minta
pemerintah di atas untuk segera merespon. Hal yang paling kami kuatirkan dari
rasa sabar yang dipendam masyarakat selama ini bisa menjadi bom atau ledakan
emosi,” katanya.
Tak hanya kepala rumah tangga, sejumlah ibu rumah tangga
dan bocah di bawah 10 tahun terpaksa ikut memikul beban berjalan hingga satu
kilometer untuk memperoleh air di kubangan di bawah kaki gunung di Desa
Doridungga. (US)
Komentar
