![]() |
| Bupati Bima saat Memberikan Selamat kepada Kontingen yang Juara MTQ. Foto Ist |
Bima,
Berita11.com— Meskipun Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) telah sukses ditutup. Namun
hingga kini masih meninggalkan masalah dan protes dari sejumlah peserta. Mereka
bahkan meminta Ketua LPTQ Kabupaten Bima, Drs H Fitrah Malik dicopot karena
dinilai diskriminasi terhadap peserta.
Peserta MTQ
tahun 2017 Kabupaten Bima dari kontingan Kecamatan Soromandi, Muhiddin, M.Pd
mengatakan banyak masalah yang timbul ketika final MTQ di lapangan umum
Kecamatan Wawo pekan lalu. Namun ironisnya keributan dan protes peserta tak
ditanggapi dewan hakim dan LPTQ.
Menurut Muhiddin,
Ketua LPTQ bersikukuh meloloskan murid binaannya. Padahal salah membaca Al
Quran. Protes itu langsung disampaikan peserta dari berbagai kecamatan,
termasuk Kecamatan Soromandi dan Kecamatan Woha.
“Masa yang
salah baca bisa diloloskan? Saya ada rekamannya, karena itu fatal. Walaupun mungkin
tajwid dan cara bacanya indah tapi itu gugur dengan sendirinya kalau bacanya
salah, itu fatal.tapi tidak diperhatikan dewan hakim,” ujar Muhiddin di
Soromandi, Jumat (26/5/2017).
Diungkapkan Muhiddin
yang paling mencengangkan, peserta yang dinyatakan lolos ke final atas nama
Herman merupakan jawara MTQ di Provinsi NTT yang akan mewakili daerah itu pada
fase nasional.
“Masa orang
yang sudah juara dan wakili daerah lain bisa ikut lagi di sini? Apa nggak
salah? Nanti bisa timbul masalah kalau sama-sama harus mewakili ke tingkat
selanjutnya,” ujarnya.
Dikatakannya,
masalah lain yang diprotes oleh peserta yaitu putusan dewan hakim yang
tiba-tiba berubah. Awalnya, mengumumkan bahwa tiga orang yang lolos masuk final
MTQ Kabupaten Bima tahun 2017. Namun belakangan dewan hakim menganulir dan
memaksakan memasukan peserta yang sudah menjadi jawara di daerah lain masuk
final MTQ Kabupaten Bima.
“Terus terang
kalau begini modelnya, semangat kami para qori ciut untuk ikut berkompetisi. Padahal
yang dicari bibit yang berkualitas, tapi bukan dengan segala cara,” katanya.
Muhiddin
berharap Bupati Bima, Hj Indah Dhamayanti Putri memperhatikan masalah tersebut.
Minimal memanggil dan mengklarifikasi LPTQ maupun dewan hakim dan Bagian Kesra
Setda Kabupaten Bima.
Harapan
yang sama juga disampaikan peserta lain.
Pada penyelenggaraan MTQ tahun berikut
harus lebih baik. dewan hakim yang dipilih harus orang yang bisa bersikap adil,
tidak mengabaikan syarat pemilihan duta Kabupaten Bima.
“Bupati harus
turun tangan agar polemik seperti ini tidak terjadi. Kan bisa memalukan kita,
apalagi sekarang Kabupaten Bima menjadi tuan rumah,” ujar peserta yang enggan
menyebut namanya.
Bagaimana respon
Ketua LPTQ Kabupaten Bima? H Fitrah Malik yang dihubungi melalui Ponsel tak
membantah sempat emosi saat merespon protes peserta ketika MTQ tahun 2017
Kabupaten Bima berlangsung. “Itu saya respon begitu karena cara protes peserta
yang juga kasar,” katanya.
H Fitrah
Malik membantah jika ia berlaku diskriminasi terhadap peserta MTQ Kabupaten
Bima. Bahkan ia pun sempat melayangkan protes yang sama ke dewan hakim karena
tidak memberikan nilai terbaik untuk murid binaannya yang sudah menjadi jawara
di Provinsi NTT.
Menurutnya,
tak ada masalah jika Suherman yang sudah juara di Provinsi NTT kembali
mengikuti kompetisi yang sama di Kabupaten Bima. Karena kategori yang diikuti
berbeda.
“Karena kategori yang diikuti itu berbeda, sehingga tidak masalah. Makanya
saya juga kecewa, saya sudah menyampaikan pengunduran diri (dari jabatan Ketua
LPTQ) kepada Sekda. Entah diterima atau tidak,” katanya.
Mantan Caleg
PKB, juga menanggapi sorotan peserta yang gagal lolos masuk final. Menurutnya,
apa yang terjadi pada final MTQ Kabupaten Bima sudah tepat. Karena aspek
penilaian dewan hakim meliputi banyak unsur, tak hanya bacaaan yang tepat, tapi
unsur keindahan suara, tajwid dan aspek lain.
“Jadi
walaupun salah (baca) tentunya ditutupi oleh nilai aspek lain. Karena aspek
penilaian itu tak hanya saja. Jadi wajar kalau Suherman masuk final,” ujar
pimpinan Ponpes Al Maliki ini. (US)
Komentar