Perjuangan M Sukri Mendidik Penyandang Cacat -->

Iklan Semua Halaman

.

Perjuangan M Sukri Mendidik Penyandang Cacat

Wednesday, May 16, 2012

Ingin Maksimal Mengabdi, Jejak diikuti  Anak Kandung 

            Tak gampang melaksanakan tugas sebagai guru, apalagi menjadi pendidik bagi penyandang cacat. Selaian kemampuan berinteraksi, juga membutuhkan kesabaran. Namun, beban pekerjaan itu sudah dilakoni, M Sukri (54), guru Sekolah Luar Biasa (SLB) Kota Bima, sejak puluhan tahun lalu. Seperti apa? Berikut Catatan Fachrunnas.-
           
Tulus: Tak kenal lelah Sukri rela meninggalkan kampung untuk mengabdi sebagai pengajar di SLB. Foto Nas
            Tak ada yang special dengan pemandangan Sekolah Luar Biasa (SLB) Kota Bima, jalan Datuk Dibanta, Kelurahan Jatiwangi, Senin (29/9) lalu sekitar pukul 10.00 Wita. Dari luar halaman tampak lengang. Kondisi yang tidak berbeda juga terlihat di dalam. Memasuki lingkungan tempat penampungan   Sekolah anak cacat  itu memang bagaikan memasuki dunia gelap anak-anak. Betapa tidak, di tempat tersebut nyaris tidak ada teriakan riang anak-anak, bahkan senyum anak pun sangat sulit ditemui.  
            Masuk ke SLB Kota Bima, jangan membayangkan, seperti memasuki sekolah umum atau kejuruan lain, meski terbilang masih pagi, sekitar pukul 10.00 Wita, nyaris tidak ada lagi siswa yang bertahan atau mengikuti Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). “Kalau siswa di sini, pulangnya cepat, paling telat jam 10 pagi, berbeda dengan sekolah lain karena siswa di sini berbeda dengan sekolah umum lainnya,” jelas, M Sukri, Pembina Tuna Netra (Kelas A), beberapa saat setelah melihat kondisi sekolah itu.
            Sudah 25 Tahun, M Sukri mengabdi di SLB Kota Bima. Soal duka jangan ditanya lagi, Namun  yang terpenting bagi pria  asal Bantul Jogjakarta ini, bisa mengubah keterbelakangan mental anak-anak cacat yang belajar di sekolah itu. “Kalau ingat-ingat duka sebenarnya  banyak, tapi yang terpenting bagi kami adalah bisa mendidik dan membuat siswa  sukses bisa memiliki masa depan yang cerah,” katanya.
            Hingga Tahun 2010, sedikitnya ada 65 anak penderita cacat  yang ditampung di sekolah tersebut, dibagi  empat kelas, masing-masing, sesuai kondisi fisiknya, kelas A misalnya, khusus untuk tuna netra, Kelas B,  khusus untuk penyandang tuna wicara,  tuna grahita  tuna rungu, down syndrome (autis). 
Rata-rata,  siswa yang dibina, merupakan anak dari kelompok masyarakat berekonomi menengah. Mata pelajaran yang diajarkan, tidak berbeda dengan sekolah lain. Siswa penyandang cacat juga diajarkan mata pelajaran umum, seperti Bahasa Indonesia, Matematika, IPA dan IPS. “Perbedaannya mungkin, hanya jumlah jam pelajarannya saja, karena harus disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi siswa di sini. Setelah tamat, ada beberapa siswa yang lanjut ke sekolah umum,” katanya.
            Menurut M Sukri, tak gampang membimbing   siswa penyandang cacat, selain membutuhkan keahlian yang sesuai jurusan, juga memerlukan modal sabar dan keuletan dalam mendidik mental siswa. Guru kelas tuna netra misalnya, harus mampu menguasai huruf broiler. Jika tidak, dari awal, bisa dipastikan  gagal  membina masa depan penyandang cacat. “Mengajar siswa di sini, penuh tantangan, seluruhnya kami coba lakoni dengan sabar dan kami anggap  sebagai bagian dari ibadah,” ujarnya.
            Diakui ayah dari lima anak ini,  pengalaman terberat ketika   menghadapi penyandang cacat, saat membina penderita down sydrome. Saat itu salahsatu  siswa dari kelas C, tiba-tiba kabur dari sekolah dan keliling lingkungan sekitar tanpa sepengetahuan guru setempat. Padahal seluruh guru harus dibebani tugas harus bertanggung jawab terhadap  aktivitas siswa yang ditampung. “Paling susah diatur, kelas C, karena memang penderita autis bergerak dan melakukan sesuatu tanpa mereka bisa control. Tapi alhamdulillah, kalau siswa yang memukul anggota badan atau temannya yang  lain, di sini belum ada,”  katanya.
            Beban tugas yang pernah diemban Sukri,  terasa ringan, setelah melihat sejumlah siswa yang pernah dididik berhasil dan memiliki masa depan yang cerah. Bahkan, dari sejumlah alumnus  sekolah itu, dua orang diantaranya, berhasil menjadi PNS, setelah menamatkan kuliah di Universitas Negeri favorit di Pulau Jawa. Satu orang diangkat sebagai PNS di Bandung dan satu orang lainya mengabdi sebagai guru salahsatu SMA Negeri di Kota Bima. “Kami sangat puas dan bangga, ternyata usaha kami selama ini mendidik siswa tidak sia-sia, mereka bisa berhasil dan mampu membuktikan bisa bersaing dengan manusia normal lainnya,” ungkapnya.
            Melihat masih banyak jumlah penyandang cacat diantara masyarakat, Sukri berharap, Pemerintah membantu  mewujudkan asrama di sekolah itu, menimal menyiapkan pengasuh sehinggga pembinaan terhadap penyandang cacat semakin maksmial. “Kalau ruangan sebenarnya sudah ada, tapi selama ini pengasuhnya yang tidak ada,” katanya.
            Karir Suami Siti Rohima ini sebagai guru SLB Kota Bima, dimulai setelah menamatkan pendidikan Sekolah Guru  Pendidikan Luar Biasa (SGPLB) Jogjakarta. Setelah menikah, M Sukri, memboyong keluarganya ke Bima. Lima orang anaknya dilahirkan di Bima.  Diantaranya, melanjutkan pendidikan pada Universitas Negeri Yogjakarta (UNY) , jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB). “Harapan anak saya bisa melanjutkan perjuangan mendidik dan membina mental anak-anak cacat,” kata Sukri. (*)
PERRHATIAN: Hati-hati penipuan mengatasnamakan Berita11.com/ PT Sebelas Cyber Media. Kerja sama/ iklan dan invoice resmi hanya yang ditandatangani Direktur PT Sebelas Cyber Media dan tercatat dalam sistem informasi (data base) perusahaan serta nomor nota tagihan yang teregistrasi dengan kode unik di sistem informasi perusahaan. Kami tidak bertanggung jawab atas nota tagihan (invoice) yang tidak tercatat maupun atas tagihan pajak terhadap invoice/kuitansi yang bukan dari perusahaan. Pembayaran tagihan iklan/ advetorial/ kerja sama yang sah melalui rekening perusahaan An. PT Sebelas Cyber Media.