Buih-buih ombak
menari bersama biduk kayu siang itu. Beberapa terpaannya menggelegar kemudian
hilang bersama laju angin. Dari
kejauhan, sang Camar melayang-layang di udara dan sesekali menjulurkan paruhnya
ke dalam laut. Siang itu, biduk seukuran
2x10 meter itu membawa beberapa pria dan wanita membelah Teluk Bima
menuju Sanggar setelah menarik jangkar di Pelabuhan Bima.
Di tengah kapal
kecil itu, seorang pria masih asyik duduk termenung. Ia masih belum percaya
setelah dua kali mengikuti seleksi
Pegawai Negeri Sipil (PNS) hingga akhirnya dinyatakan lulus, namun tak pernah
dia mendapatkan Surat Keputusan (SK) pengangkatan. Beberapa instansi pun ia
coba lamar hingga akhirnya dinyatakan lalus. Hari-hari getir harus ia lalui
setelah tak mampu menunggu SK sebagai tenaga lapangan Pertanian di Mataram.
Setahun
kemudian ia memutuskan kembali ke Bima dan melamar pekerjaan hingga ditugaskan
sebagai tenaga Pertanian di Sanggar Kabupaten Bima. Jika saja ia hobi
menggambar konstruksi bangunan dan beberapa detilnya, mungkin ia tak akan menyesal
memutuskan keluar dari Departemen Teknik Arsitektur dan Perencanaan
Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta.
Apa lacur,
keputusan itu sudah dia ambil setelah menempuh kuliah dua semester di UGM. Dari
bangku STM ia memang sudah senang dengan Teknik Sipil, meskipun dengan Departemen Teknik Arsitektur setali
tiga uang. Orang tuanya sudah mendukungnya untuk kembali ke NTB untuk mengikuti
tes PNS.
Kisah
perjalanan hidupnya yang lebih dari 30 tahun lalu itu masih melekat dalam
ingatan pria kelahiran 10 Maret 1959 yang segera memasuki masa purna tugas ini.
Sesekali ia menyeruput kopi sambil tangan kanannya menghisap sebatang rokok.
![]() |
| Selalu Akrab dengan Siapapun Termasuk Wartawan, Aktivis, Para Pegawai dan Orang-orang Susah. |
30 tahun lalu
sebelum menjadi PNS, H Hairudin ST MT masih mengingat betul masa-masa sulit
dalam hidupnya ketika meniti karir di instansi pemerintah sebelum menjadi PNS.
Setelah pindah dari Mataram ke Bima dan memutuskan tak melanjutkan kuliah di
Departemen Teknik Arsitektur UGM, ia mengabdi sebagai pegawai pertanian di
Sanggar.
“Paling saya
ingat itu saat berangkat ke Sanggar naik kapal. Terus saat pulang ke Bima
(ibukota) kadang jalan kaki sebelum dapat bus lama waktu itu. Sebelum nyampai
Paruga Santai Cabang Banggo, ada cerita orang-orang tua dulu kita harus
melewati daerah angker di sekitar sana dan disarankan bawa kayu bercabang. Tapi
alhamdulillah nggak pernah ketemu dengan hal begitu,” cerita Hairudin siang
itu.
Meskipun tak
sampai bertugas hingga bertahun-tahun di Sanggar, Hairudin bersyukur dapat
mengikuti seleksi pegawai non-PNS di Balai Pengawasan Jalan Dinas Pekerjaan
Umum yang berkantor di Raba.
“Saya heran
sampai tiga kali saya ikut tes pegawai negeri sipil dinyatakan lulus tapi tidak
pernah terima SK,” ceritanya.
Rupanya sifat
sabar sudah lama ditanamkan orang tua H Hairudin menjadi kebiasaannya sejak
muda. Hal itu juga yang membuatnya bersabar melakoni pekerjaan lapangan sebagai
bagian pengawas jalan.
“Saat kerja
tenaga lapangan di pengawas jalan saya sempat tidak akur dengan teman-teman di
lapangan. Sampai pernah saya bawa sepeda motor bawa lari hingga ruang kantor,”
ceritanya.
Hari-hari
menjadi pegawai non-PNS Dinas PU semakin membuat Hairudin kala itu
bertanya-tanya mengapa ia tak kunjung pernah memperoleh SK pengangkatan sebagai
PNS. Padahal pegawai lain yang berasal dari luar daerah justru langsung
mendapatkan SK pengangkatan sebagai PNS. Hal itu kemudian berkecamuk dalam
hatinya hingga ia pun berani melayangkan pertanyaan untuk Bupati Bima kala itu, H Umar Harun.
Pemimpin daerah
yang berasal dari latar belakang institusi militer tak membuat nyali Hairudin
kala itu menciut untuk menanyakan perihal SK untuk dirinya yang tak kunjung
keluar. “Setelah itu sampai akhirnya saya dipanggil oleh bupati saat itu. Saya diberikan
sebuah nota yang harus saya kasi kepada orang (pejabat BKD saat itu),” cerita
Hairudin.
Dengan bekal
nota itu, pada hari yang sama diperintahkan harus berangkat ke Jakarta. Padahal
ketika itu di kantongnya tanpa uang sepeser pun.
“Setelah saya hubungi orang
bandara, ternyata semua ditanggung untuk saya SPPD bupati saat itu. Hari itu
juga saya berangkat naik pesawat menuju Mataram. Kemudian lanjut ke Jakarta,”
katanya.
Tanpa modal di
dalam kantung, akhirnya Hairudin tiba di Jakarta tepatnya di Badan Kepegawaian
Negara (BKN). “Pada hari itu orang di sana langsung nanya yang dari Bima?
kemudian saya ditanya ada bawa ijazah-ijazah. Padahal hari itu saya hanya
dengan modal pakaian yang melekat di badan saja. Kalau saya ingat foto pertama
dalam SK pengangkatan, saya jadi terharu,” ujarnya.
Setelah resmi
diangkat menjadi PNS saat tahun 1989, Hairudin kembali menekuni aktivitasnya
sebagai pegawai instansi pemerintah. Tugas-tugas pertama dia, pernah menjadi
tukang pembuat amplop di Dinas Pekerjaan Umum, hingga akhirnya beberapa tahun
kemudian mendapat kepercayaan untuk tugas belajar, kuliah S1 Teknik Sipil di
Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang Jawa Tengah.
Masa-masa
kuliah S1 ditempuh Hairudin selama tiga
setengah tahun. selama kuliah ia juga aktif berorganisasi. Bahkan sering
lantang berbicara di depan forum termasuk ketika berhadapan dengan Rektor UNDIP
kala itu Prof Dr H Muladi SH yang juga mantan Gubernur Lemhanas.
Keberanian Hairudin
untuk tampil dan berbicara dalam forum-forum membuat mahasiswa UNDIP dari
daerah lain kagum. Kemudian merapat dan selalu mengajaknya berdiskusi. Salah satu
organisasi yang pernah dia ikut aktif adalah kelompok
organisasi dari Partai Rakyat Demokratik (PRD)/ LMND.
Sepulang dari
tugas belajar dan beberapa tahun setelah menjadi PNS dan mengikuti seleksi
Diklat PIM, Hairudin pertama kali diangkat Kasubag di Dinas Pekerjaan Umum. Beberapa
tahun kemudian ia menduduki beberapa jabatan lain, kemudian mendapatkan
kepercayaan untuk melanjutkan tugas belajar S2 di kampus yang sama yaitu UNDIP
Semarang.
“Saat itu
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Pak Rum (mantan Sekda Kota Bima). Sempat ada protes
saat itu, sampai akhirnya saya tetap lanjut S2,” ceritanya.
Setelah menyelesaikan
Program Studi S2, Hairudin dan sejumlah pejabat lain sempat non-job ketika masa
kepemimpinan mantan Bupati Bima, Drs H Zainul Arifin. Namun tak lama, beberapa
tahun kemudian setelah proses mekar Kabupaten Bima dengan tambahan daerah baru
yakni Kota Bima, ia dipercaya menempati sejumlah jabatan strategis.
Ketika masa
kepemimpinan mantan Bupati Bima, almarhum H Fery Zulkarnain ST, H. Hairudin ST
MT menempati posisi Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Bima. Posisinya
itu bertahan meskipun terjadi pergantian posisi kepala daerah ke Wakil Bupati Bima H
Syafruddin M Noer saat itu yang naik menggantikan almarhum H Fery Zulkarnain. Bahkan
posisi jabatan H Hairudin bertahan hingga kepala daerah saat ini, Hj Indah Dhamayanti
Putri, istri mendiang Bupati Bima dulu.
Selama duduk
sebagai Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Bima, H Hairudin ST MT
berupaya menghadirkan dan melobi anggaran pusat, menghadirkan beberapa proyek
energi seperti PLTS di Maria Wawo, PLTMH di Kecamatan Tambora, pembangkit bio
energi di Kecamatan Woha.
Sayang, meskipun sukses membangun di sektor energi, haja saja
kala itu, upaya-upaya pemerintah daerah menggandeng investor tambang untuk
investasi di Kabupaten Bima dihadang gelombang demontrasi mahasiswa dan
masyarakat.
Setelah
perubahan nomenklatur atau penambahan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) baru, H
Hairudin diangkat sebagai Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman (Perkim)
Kabupaten Bima pada awal-awal kepemimpinan Bupati Bima, Hj Indah Dhamayanti
Putri dan Wakil Bupati Bima, Drs H Dahlan M Noer.
Kini memasuki
usia senja, pria asli Tente Kecamatan Woha ini diberikan kepercayaan oleh
Bupati Bima untuk mengurus perusahaan daerah air minum (PDAM) Bima yang sudah
lama di ambang bubar dan bangkrut.
“Permasalahan
PDAM ini sangat kompleks. Masalah yang sudah lama, mulai dari masalah
operasional, masalah piutang yang mungkin sangat sulit diselesaikan,” katanya.
Bagi pria yang
sebentar lagi genap 60 tahun ini, jabatannya sebagai Direktur PDAM adalah
ladang amal baginya. Target utamanya, suksesnya sistem penyedia air minum di
Kabupaten Bima dan Kota Bima.
Menurutnya,
persoalan PDAM Bima adalah masalah serius bahkan lebih akut dari daripada
masalah BUMN. Namun ia optimis dapat menyelesaikannya, meskipun kadang butuh
waktu.
![]() |
| Selain Sukses Berkarir di Birokrasi, H Hairudin juga Sukses Membangun Keluargnya. |
Beberapa permasalahan
yang dihadapi PDAM Bima yaitu masalah gaji karyawan, pembengkakan penggunaan
energi untuk kebutuhan operasional seperti listrik. Masalah jaringan air yang
sudah lama tersumbat dan terganggu oleh proyek instansi lain. Selan itu,
penggunaan air PDAM di luar meteran sehingga membuat PDAM rugi.
Sejumlah karya
Hairudin untuk Kabupaten Bima menjelang masa purna tugasnya yaitu bangunan
Taman Kalaki di Desa Panda, Masjid Agung Bima yang masih dalam tahap garapan
dan persiapan anggaran. Pembangunan musala Dinas Perkim.
Hairudin juga
tercatat sebagai pejabat eselon II yang menginisiasi agar OPD-OPD di Kabupaten
Bima pindah ke kompleks insntasi dan kantor Bupati Bima di Godo Desa Dadibou
Kecamatan Woha. [US]
Komentar

