![]() |
| Meskipun Berusia Senja, Abdul Rajak Tetap Semangat Bekerja Menjadi Buruh Tambak Garam. Foto US. |
Harga garam di Kabupaten Bima tak kunjung naik seperti yang menjadi janji
pemerintah daerah. Sejumlah petani garam pun harus sabar dan gigit jari menghayal
masa kejayaan ketika harganya pernah mencapai Rp180 ribu per karung. Hal itu
juga yang dirasakan sejumlah petani tambak dan parah buruh garam di Desa Sanolo
Kecamatan Bolo. Catatan Fachrunnas.
Tangan pria tua yang memegang piring plastik itu
terlihat lincah memasukan tumpukan butiran kristal tak beraturan di pematang
tambak sore itu. Kulitnya kontras dengan karung yang dipegangnya. Sepekan terakhir,
tak jauh dari jalan raya negara yang ramai hilir mudik kendaraan itu, ia terus
memacu tenagaya yang makin tua, memasukan butir-butir garam hingga penuh dalam
karung plastik. Peluh dan carak matahari tak ia hiraukan, yang penting
bagaimana mengubah kristal-kristal putih menjadi beberapa kertas rupiah agar
dapur tetap mengepul.
Sudah bertahun-tahun Abdul Rajak (63 tahun)
menjadi buruh tambak garam, sejak itu
pula ia hanya mampu bermimpi mengayak harapan hidup lebih baik. Harga garam nyaris
tidak pernah bersahabat dengan petani dan buruh tambak. Bahkan yang membuat ketir para petani harganya hanya Rp20
ribu per karung. Padahal sebelumnya pernah mencapai masa keemasan saat harganya
mencapai Rp180 ribu per karung. Itupun hanya berlangsung beberapa bulan.
“Mau bagaimana lagi pak, mungkin sudah nasib
kita yang jadi buruh dan petani garam. Dulu harganya penah sampai 180 ribu per karung. Sekarang Cuma 20 ribu,
syukur-syukur kalau bisa 50 ribu,” ujar Abdurrazak yang beberapa tahun terakhir
menafkahi anak dan istrinya dari hasil menjadi buruh tambak dan buruh sawah
milik orang lain.
Tak memiliki tambak sendiri, setiap musim ranggas, Abdul Rajak selalu menjadi buruh tambak milik
orang lain, termasuk milik Ibrahim, anggota TNI di Kecamatan Bolo yang sangat
baik kepadanya. Saat panen hasilnya selalu dibagi dua.
“Pak
Ibrahim itu adalah orang yang baik hati kepada kami yang susah. Diijinkan jadi
buruh saja saya bersyukur. Kadang-kadang pas pulang ambil gaji di Bima beliau
membawakan beras untuk keluarga saya,” cerita Abdul Rajak.
Di Desa Sanolo Kecamatan Bolo Kabupaten Bima,
Abdul Rajak dan istrinya Hawsah memang dikenal salah satu kaum papah. Soal pendidikan
anaknya jangan ditanya, dua anaknya hanya mampu disekolahkan hingga bangku SMA.
Itu karena hasil menggarap tambak orang hanya cukup untuk kebutuhan dapur. Itu pun
sering kurang, apalagi membiayai anak untuk
kuliah.
Ia sering membagi tugas dengan istrinya,
Hawsa saat siang dan sore meratakan butir-butir garam yang dalam proses
produksi.
“Katanya kemarin-kemarin mau diupayakan pemerintah agar harganya
tidak sampai benar-benar anjlok. Tapi sampai sekarang harga garam masih 20 ribu
per karung,” katanya.
Tak hanya Abdul Rajak yang merasakan getirnya
menjadi buruh tambak garam tahun ini, Safiin alias Musafir, pria 37 tahun,
warga Desa Sanolo juga hanya bisa berdoa agar harga garam bisa naik, paling
tidak mencapai Rp50 ribu per karung.
“Sekarang ini murah sekali sekarung hanya 20
ribu. Tapi ndak tahu kalau sudah diangkut ke luar (daerah). Harga yang dibeli
langsung di sini itu 20 ribu,” katanya.
![]() |
| Pengelola Tambak Garam di Desa Sanolo Kecamatan Bolo Kabupaten Bima. Foto US Berita11.com. |
Pria yang kesehariannya juga bekerja sebagai supir angkutan umum di Kecamatan Bolo Kabupaten Bima ini mengaku, tahun 2018 ini adalah masa-masa yang paling sulit bagi buruh dan petani tambak.
“Tambak
yang saya kelola ini adalah milik orang. Nanti hasilnya dibagi dua. Ini pun
harga garam tak seberapa. Tapi kita bersyukur saja,” ujar bapak tiga anak ini.
Safi’in berharap ada upaya serius dari
pemerintah daerah melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) maupun pemerintah
desa dalam membantu petani tambak menjadi lebih baik. Misalnya dengan melakukan
berbagai terobosan seperti menjalin kemitraan dengan perusahaan luar daerah
maupun memastikan perusahaan lokal, pengepul garam tidak “mencekik” para buruh
dan pengelola tambak garam.
Permasalahan harga garam yang tak bersahabat
dengan para buru dan petani akan membuat para buruh dan pengelola beralih ke
sektor lain dengan menjadi buruh kasar maupun pekerjaan lain sehingga total
produksi garam di Kabupaten Bima bakal berkurang drastis.
“Mudah-mudahan saja mas kelak ini
diperhatikan pemerintah. Kami sih malu dan tidak berani ngomong banyak,”
katanya.
Sebelumnya Kepala Dinas Kelautan dan
Perikanan (DKP) Kabupaten Bima, Ir Hj Nurmah pernah beberapa kali bertemu
aktivis pemerhati nasib petani tambak garam, pemerintah kecamatan dan sejumlah
stake holder lain membahas solusi harga garam yang turun drastis.
Nurmah menjanjikan dalam beberapa pekan harga
garam di Kabupaten Bima bakal naik seiring berjalannya kesepakatan pemerintah
dengan sejumlah perusahaan di luar daerah seperti di Jawa Timur. (*)
Komentar
