Perahu kecil itu kian meninggalkan samar cahaya di bibir pantai, tak jauh
dari pelabuhan Bima. Dari jauh, larik-larik cahaya bulan seperti mengintip di
antara remang gumpalan awan hitam. Mereka memulai perjalanan pukul 20.00 Wita,
membelah buih-buih ombak yang sedang bermain dengan malam. Gema suara mesin
dongfeng semakin lama, semakin menciut diterpa angin dan gelombang. Seorang
pria paling tua di antara mereka memberi aba-aba agar terus menarik tuas mesin.
Tak lama, beberapa di antara penumpang perahu hanyut dengan suasana temaram.
Hanya geladak seukuran matras kecil menjadi penawar letih sementara menunggu
jangkar dimuntahkan ke laut. Suasana malam di tengah laut setelah teluk Bima
seperti samudera tak bertuan. Nyaris tak ada cahaya saat rembulan tak membagi
pelitanya, tak ada kapal yang lalu-lalang malam hari seperti sekarang.
Bocah kecil itu ikut menantang malam dan ombak ganas bersama empat pria
dewasa. Ia dibawa oleh Bukhari yang tak lain ayahnya yang telah lama menjadi
nelayan di pesisir Tanjung Bima. “Putar-putar saja di depan. Kalau tidak ada,
kita jalan terus saja sampai Wera,” kata pria tua memberi aba-aba kepada pria
lain yang memegang kemudi perahu malam itu.
Kenangan 39 tahun silam itu masih melekat dalam ingatan Indra Jaya, tak
pernah lekang oleh waktu. Meskipun ayahnya Bukhari yang mengajarkan ia menjadi
pria tangguh, mengajarkan menjadi nelayan, telah tiada. Ia memulai debut
sebagai nelayan sejak umur lima tahun.
“Dari kecil, dari umur lima tahun saya sudah diajarkan almarhum bapak saya
menjadi nelayan. Makanya sampai sekarang saya sudah terbiasa menjadi nelayan,”
kata Indra Jaya ketika ditemui Berita11.com di Pusat Pendaratan Ikan Kelurahan
Tanjung, Jumat sore.
Sejak umur lima tahun Indra Jaya sudah diajari ayahnya menjadi penyelam
ikan. Lingkungan pesisir di Kelurahan Tanjung yang tak jauh dari laut
membuatnya akrab dengan air asin. Namun ia baru memulai menjadi penyelam
andalan nelayan di Kelurahan Tanjung setelah menginjak umur 15 tahun, setelah
memiliki banyak pengalaman.
“Sejak saat itu saya lebih sering menyelam mencari ikan bersama bapak saya.
Kadang lobster, paling sering menyelam malam hari,” ceritanya.
Menyelam di Bima hingga
Pantai Selatan, NTT, Laut Banda, Papua dan Maluku
Seiring umurnya bertambah, kemampuan Indra Jaya menyelam semakin meningkat.
Wilayah tangkap nelayan di Kelurahan Tanjung semakin meluas hingga wilayah
Provinsi Nusa Tenggara Timur, ia sering menyelam di berbagai wilayah laut di
NTT dan Maluku. Nyaris semua keganasan laut
di Pulau Wetar, Pulau Tiser, Pulau Romang, Pulau Babar Maluku Barat Daya, Ternate dan Pulau Batu
Goyang Maluku sudah pernah dirasakan Indra Jaya.
Sulitnya mencari makan di halaman sendiri membuat ia harus menaklukan lebih
banyak laut ganas lain yaitu di Pulau Sikur, laut Adonara di Waiwerang Flores
Timur Provinsi NTT, Pulau Serang, hingga Papua Barat. Indra Jaya juga pernah
menaklukkan keganasan beberapa laut di Pulau Kalimantan, Pulau Sulawesi. Bahkan
ia pernah menyelam di Tanjung Benoa Provinsi Bali dan Pantai Selatan Jogjakarta
hanya untuk mencari lobster.
“Pernah juga menyelam mutiara di Waiwerang NTT. Kalau waktu di Pantai
Selatan nyelam cari lobster. Biasanya hasil selam itu dibagi hasilnya dengan
saya,” cerita Indra Jaya.
Dari sejumlah laut yang pernah dia selami, laut Pulau Wetar di wilayah
Kabupaten Maluku Barat Daya yang merupakan pulau terluar Indonesia, yang
terletak di Laut Banda, berbatasan dengan Timur Leste merupakan laut yang
paling berkesan pernah diselami Indra Jaya. Awal-awalnya ketika itu ia pernah
dikejar gerombolan buaya. Namun beruntung ia memiliki penangkal yang telah
diwariskan secara turun temurun oleh keluarganya.
Setiap keliling daerah di Indonesia untuk menyelam mencari ikan, lobster
atau mutiara, Indra Jaya selalu membawa ajimat Gigi Putih yang dipercayai
keluarganya sebagai penangkal mahluk jahat ketika berada di bawah laut.
“Saya pernah dikejar buaya waktu di Pulau Wetar. Tapi untungnya saya ingat
bawa ajimat Gigi Putih sehingga buaya yang awalnya kejar saya, sama-sama
menyelam bersama saya. Di sana banyak sekali buaya,” ujar Indra Jaya.
Pernah Sakit saat
Menyelam Mencari Akar Bahar Putih dan Merah
Seiring bertambahnya umur, Indra Jaya mengurangi aktivitas menyelam di luar
daerah seperti di wilayah Indonesia Bagian Timur di Provinsi NTT atau Maluku. Pada
tahun 1995 ia pernah istrahat melaut selama satu tahun karena sempat letih. Namun
sejak tahun 1997, ia lebih banyak menyelam malam hari di seputaran wialyah Bima.
Di dalam keluarganya, ia adalah satu-satunya yang mewarisi bakat ayahnya
menjadi nelayan. Delapan suadara Indra Jaya ogah menjadi nelayan. “Saya
bersyukur diberikan badan yang sehat seperti ini. Saya tidak tahu bagaimana
lagi mencari nafkah selain dari laut. Selain menjadi penyelam, menembak ikan,”
katanya.
Dari hasilnya melaut, Indra Jaya bersyukur mampu menafkahi tujuh anaknya
dan Aisyah, wanita asal Pulau Bungin Kecamatan Alas Kabupaten Sumbawa yang
dinikahinya belasan tahun silam. Setiap hari ia membagi tugas bersama Faisal
Muhammad menyelam mencari ikan. Dari hasil sekali melaut dalam tiga hari, Indra
Jaya dan kawan-kawannya mendapatkan hasil Rp10 juta hingga Rp12 juta yang
dibagi setelah dikurangi biaya opearsional.
“Tapi kalau beberapa minggu terakhir ini paling dapat cuma dapat 1,7 juta
atau paling banyak Rp2 juta yang dibagi dengan beberapa anggota,” katanya.
Indra Jaya juga bersyukur karena aktivitas menyelam dibantu oleh anggotanya
yang lain. Setiap hari ia membagi tugas turun ke laut menyelam dengan bantuan
mesin kompresor. Khusus teluk Bima masih mampu ia selami tanpa bantuan
kompresor hingga kedalaman 11 meter.
“Kalau takut menyelam malam hari atau pernah liat hantu dan lain-lain itu
nggak pernah. Alhamdulillah nggak pernah saya takut sakit paru-paru basah
karena nyelam malam hari. Malah kalau nyelam malam hari nggak pernah pakai
baju, hanya celana saja,” kata Indra Jaya.
Meskipun memiliki badan yang kuat dan ajimat yang dipercayai sebagai
pelindung, menyelami laut dalam bukan tanpa gangguan. Indra Jaya pernah sakit
manakala menyelam mencari akar bahar berwarna merah dan putih di perairan laut Kelurahan
Kolo Kecamatan Asakota Kota Bima, beberapa tahun silam.
“Saya pernah sakit waktu ambil akar bahar warna putih dan merah. Kalau ambil
akar bahar warna hitam saya sudah biasa. Tapi waktu nyelam ambil akar bahar
merah dan warna putih saya sampai sakit. Ternyata benar kuat penunggunya di
sana,” ceritanya.
Kendati belum berusia senja dan masih memiliki badan yang kuat, pria
kelahiran 44 tahun silam ini berharap ada sedikit bantuan dari pemerintah untuk
nelayan di wilayah peisisr Tanjung.
“Dulu rumah saya pernah beberapakali disurvei. Katanya akan diberikan bantuan,
banyak yang data mendata, beberapakali. Tapi tak pernah saya dapat bantuan. Pengennya
paling tidak ada bantuan untuk beli pukat. Ini perahu saya punya untungnya
dibantu mertua di Pulau Bungin,” kata Indra Jaya. (*)
Fachrunnas/ Berita11.com
Komentar