Ilham, Bocah Pemulung asal Kelurahan Penatoi -->

Iklan Semua Halaman

.

Ilham, Bocah Pemulung asal Kelurahan Penatoi

Wednesday, May 16, 2012

Tak kenal Panas, Ingin terus Sekolah   
           
Dunia anak-anak di Kota Bima masih buram, seperti yang  menjadi potret kehidupan Ilham, bocah sembilan tahun asal Kelurahan Penatoi. Hampir setiap hari, pelajar SDN 40 Kota Bima ini, harus mengumpulkan sampah plastik untuk memenuhi kebutuhan  hidup keluarganya. Seperti apa? Berikut Catatan Fachrunnas.

            Sinar matahari siang itu kian mencarak, teriknya menyengat kulit dan menyebabkan bau keringat. Deru suara kendaraan  yang lalu-lalang memekakkan telinga,  beberapa diantaranya ada yang memuntahkan asap tebal, sebelum   melambung ke udara. Namun, dua bocah itu tak peduli, mereka tetap serius memungut puluhan gelas plastik bekas yang berserakkan di sepanjang jalan di depan halaman kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bima, tangan kirinya memegang sebuah karung.  Bulir keringat bercucuran di wajah mereka, mengiringi langkahnya mengumpulkan sampah.
            Ya, mengumpulkan gelas plastik bekas dan sampah anorganik lainnya, merupakan pilihan terakhir bagi Ilham, bocah sembilan tahun asal  Penatoi itu mengayak harapan hidup, setelah keluarganya dibelit masalah ekonomi sejak lama.  Bapak kandungnya hanya mampu bekerja serabutan mengandalkan musim, karena pendidikannya tak sepadan dunia kerja saat ini.
            Jumat siang itu, siswa kelas III SDN 40 Kota Bima itu dibantu adiknya, Rahmad (7).  Kelokan jalan raya yang dipenuhi sampah plastik yang ditinggalkan massa pendemo di depan kantor Pemkab Bima hari itu  sudah mereka hafal, sorot matanya begitu tajam memandangi sampah yang berserakan. Walaupun lalulintas kendaraan begitu ramai, mereka tak peduli, yang terpenting bisa membantu orangtuanya mengayak harapan hidup yang lebih baik.  “Biasanya setiap hari kami kerja seperti ini, mengumpulkan sampah plastik. Bapak juga kadang membantu,” ujar Ilham polos saat dihampiri.
            Sejak lama, Ilham mengaku kerap membantu orang tuanya. Meski kadang hanya separuh waktu, karena harus meluangkan waktunya  bersekolah.  “Kalau tidak ikut kerja, kasihan bapak, ibu dan adik, nanti mau makan apa, tidak ada uang buat beli makan,” katanya.
            Jika bisa berharap, Ilham mengindamkan dibantu pemerintah dan rumahnya dikunjungi Wali Kota Bima, H Qurais H Abidin. Apalagi, sepengetahuannya dari informasi keluarganya, pejabat itu berasal dari kelurahan, tempat mereka dilahirkan dan menetap. “Pengen, mau mengadu nasib kami. Mudah-mudahan bisa dibantu,” ujarnya.
            Ilham mengaku tak mengetahui kapan akan berhenti menyusuri jalan raya dan beberapa lorong tempat lainnya.  Dia dan adiknya hanya berpikir untuk terus mengumpulkan sampah plastik yang mereka temukan sepanjang jalan.  Mereka tak punya harapan lain dan cita-cita yang muluk, kecuali mengubah nasib keluarganya.
            Mereka ihklas menjalani rutinitas   itu. Raut bahagia selalu terpancar pada wajah Ilham dan adiknya, meski esok tak ada waktu istirahat, meski esok  harus menyusuri jalan lagi. (*)
PERRHATIAN: Hati-hati penipuan mengatasnamakan Berita11.com/ PT Sebelas Cyber Media. Kerja sama/ iklan dan invoice resmi hanya yang ditandatangani Direktur PT Sebelas Cyber Media dan tercatat dalam sistem informasi (data base) perusahaan serta nomor nota tagihan yang teregistrasi dengan kode unik di sistem informasi perusahaan. Kami tidak bertanggung jawab atas nota tagihan (invoice) yang tidak tercatat maupun atas tagihan pajak terhadap invoice/kuitansi yang bukan dari perusahaan. Pembayaran tagihan iklan/ advetorial/ kerja sama yang sah melalui rekening perusahaan An. PT Sebelas Cyber Media.