Tak kenal Panas, Ingin terus Sekolah
Dunia
anak-anak di Kota Bima masih buram, seperti yang menjadi potret kehidupan Ilham, bocah
sembilan tahun asal Kelurahan Penatoi. Hampir setiap hari, pelajar SDN 40 Kota
Bima ini, harus mengumpulkan sampah plastik untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Seperti apa? Berikut Catatan Fachrunnas.
Sinar matahari siang itu kian
mencarak, teriknya menyengat kulit dan menyebabkan bau keringat. Deru suara
kendaraan yang lalu-lalang memekakkan
telinga, beberapa diantaranya ada yang
memuntahkan asap tebal, sebelum melambung ke udara. Namun, dua bocah itu tak
peduli, mereka tetap serius memungut puluhan gelas plastik bekas yang
berserakkan di sepanjang jalan di depan halaman kantor Pemerintah Kabupaten
(Pemkab) Bima, tangan kirinya memegang sebuah karung. Bulir keringat bercucuran di wajah mereka,
mengiringi langkahnya mengumpulkan sampah.
Ya, mengumpulkan gelas plastik bekas
dan sampah anorganik lainnya, merupakan pilihan terakhir bagi Ilham, bocah
sembilan tahun asal Penatoi itu mengayak
harapan hidup, setelah keluarganya dibelit masalah ekonomi sejak lama. Bapak kandungnya hanya mampu bekerja
serabutan mengandalkan musim, karena pendidikannya tak sepadan dunia kerja saat
ini.
Jumat siang itu, siswa kelas III SDN
40 Kota Bima itu dibantu adiknya, Rahmad (7).
Kelokan jalan raya yang dipenuhi sampah plastik yang ditinggalkan massa
pendemo di depan kantor Pemkab Bima hari itu
sudah mereka hafal, sorot matanya begitu tajam memandangi sampah yang
berserakan. Walaupun lalulintas kendaraan begitu ramai, mereka tak peduli, yang
terpenting bisa membantu orangtuanya mengayak harapan hidup yang lebih
baik. “Biasanya setiap hari kami kerja
seperti ini, mengumpulkan sampah plastik. Bapak juga kadang membantu,” ujar
Ilham polos saat dihampiri.
Sejak lama, Ilham mengaku kerap
membantu orang tuanya. Meski kadang hanya separuh waktu, karena harus
meluangkan waktunya bersekolah. “Kalau tidak ikut kerja, kasihan
bapak, ibu dan adik, nanti mau makan apa, tidak ada uang buat beli makan,”
katanya.
Jika bisa berharap, Ilham
mengindamkan dibantu pemerintah dan rumahnya dikunjungi Wali Kota Bima, H
Qurais H Abidin. Apalagi, sepengetahuannya dari informasi keluarganya, pejabat
itu berasal dari kelurahan, tempat mereka dilahirkan dan menetap. “Pengen, mau
mengadu nasib kami. Mudah-mudahan bisa dibantu,” ujarnya.
Ilham mengaku tak
mengetahui kapan akan berhenti menyusuri jalan raya dan beberapa lorong tempat
lainnya. Dia dan adiknya hanya berpikir
untuk terus mengumpulkan sampah plastik yang mereka temukan sepanjang
jalan. Mereka tak punya harapan lain dan
cita-cita yang muluk, kecuali mengubah nasib keluarganya.
Mereka
ihklas menjalani rutinitas itu. Raut
bahagia selalu terpancar pada wajah Ilham dan adiknya, meski esok tak ada waktu
istirahat, meski esok harus menyusuri
jalan lagi. (*)
Komentar