![]() |
| Fina Putri Sumarlina Tampak Terbaring Lemah di RSUD Kabupaten Dompu. Foto RIS/Berita11.com. |
Fina Putri Sumarlina, warga Keluarahan Karijawa Kecamatan Dompu Kabupaten Dompu NTB sudah beberapa hari terbaring di sal beda perawatan kelas I Ekonomi RSUD Dompu. Ia dihadapkan dengan cobaan yang begitu besar. Wanita yatim piatu ini divonis pihak medis mengidap penyakit kanker payudara stadium 4.
Putri
dari pasangan almarhum H. Yusuf dan almarhumah Siti Saleha ini, sebelum penyakit kanker payudara yang menderanya sampai stadium 4, ia menjalani hari-harinya dengan memikul beban
penderitaan seorang diri, sambil membuka usaha kecil-kecilan menjual
jajan gorengan di sebuah lapak yang berukuran kecil di sudut Lapangan Karijawa Dompu.
Menurut
kakak sepupunya Diyatmi Yati yang juga merupakan satu-satunya tempat dia
mengadu, mengungkapkan bahwa penyakit yang dialami wanita yang pendiam tersebut berawal dari munculnya benjolan di payudara. Hal itu
Fina ceritakan kepada Diyatmi dan ibunya pada tahun 2018 lalu. Ketika itu, ibunya belum menghadap sang khalik.
"Dia
cerita hanya ke saya dan pada ibunya, bahwa penyakitnya ini berawal dari muncul
banjol di payudaranya, tapi mamanya Fina bilang itu biasa karena capek mengurus
mamanya yang sakit," ungkap Diyatmi pada Berita11.com saat ditemui di RSUD Dompu, Sabtu (26/10/19) malam.
Sekira Mei tahun 2018 lalu, Diyatmi pernah menawarkan Fina agar menjalani operasi, namun sepupunya itu tidak mau. Meskipun sudah menjelaskan bahwa yang dikuatirkan penyakit benjol itu adalah tumor atau kanker. Fina bahkan malah menganggap dirinya menakut-nakutinya.
“Saat
tumbuh benjolan kedua, dia datang cerita lagi dan saya ajak dia untuk operasi. Dia tidak mau, ternyata diam-diam, Fina pergi sendiri ke dokter, sesudah dia pulang
dari dokter, baru Fina cerita bahwa dokter menawarkan dia untuk dioperasi, tapi dia
tidak mau karena saat itu juga dia mau nikah,” cerita Diyatmi.
Diyatmi
mengatakan, alumnus S1 Pendidikan Matematika tahun 2013 Universitas Muhammadiyah Mataram itu tidak memiliki niat untuk menjalani operasi. Bahkan lebih
memilih pengobatan tradisional. Apalagi saat itu, wanita kelahiran 16 April 1992
itu ingin mengakhiri masa lajangnya dengan menikah.
“Fina
saat itu tidak ada niat untuk dioperasi, karena itu hanya benjolan Fina mau
obat tradisional saja, tapi Fina menegaskan ke saya untuk tidak beritahu keluarga lain, cukup saya saja yang tahu, saya pun takut keluarganya marah,
dan saya disuruh sumpah agar tidak dibocorkan ke keluarganya termasuk pada
ibunya saat ibunya masih hidup," cerita Diyatmi.
Tepatnya
pada lembaran Juni 2018 lalu, Fina ditinggal sang ibu, yang pergi untuk selamanya. Waktu terus berlalu, hari terus berputar, penyakit Fina pun kian membesar dan ia enggan menceritakan kepada
saudara-saudaranya, termasuk kepada sejumlah kakak kandungnya tentang apa yang
sebenarnya dia alami.
“Mulai
itu Fina menjalani hidup bersama kedua keponaannya, dan penyakitnya kian
semakin membesar hingga dua bulan yang lalu, Fina sudah makin parah, kemudian
saya dipanggil sama keponakannya bahwa Fina dikabarkan telah keluar ulat di
payudaranya 12 ekor. Mulai itu, saya jemput Fina untuk tinggal bersama saya,"
ujar Diyatmi sedikit sedih.
Hingga
saat ini, wanita yatim piatu itu, hanya bisa terbaring lemah di RSUD Kabupaten Dompu, karena kadar hemoglobin (HB) dalam tubuhnya turun drastis.
"Fina
ada kemungkinan untuk dioperasi sambil menunggu stabilnya HB karena HBnya Fina
cuman tiga. Setelah HBnya stabil nanti baru diambil sampelnya baru dikirim ke
Bali tunggu seminggu atau dua minggu, kemudian dikirim kembali baru tahu
hasilnya sudah bisa dioperasi atau belum. Semoga Fina bisa dioperasi
meskipun menghabiskan apa yang saya punya," harap Diyatmi.
Dayitmi belum putus asa untuk kesembuhan Fina. Jika ada donatur yang ingin meringankan beban untuk biaya operasi Fina, Diyatmi sangat bersyukur.
"Kalau memang ada yang ingin membantu, kami sangat bersyukur dan berterima
kasih,” pungkasnya. [RIS]
Komentar